Hewan Eksotis Kembali Tren? Mengapa Iguana dan Sugar Glider Jadi Primadona 2026
Uncategorized

Hewan Eksotis Kembali Tren? Mengapa Iguana dan Sugar Glider Jadi Primadona 2026

Gue mau cerita.

Kemaren gue buka Instagram Stories. Scrolling biasa. Terus liat postingan temen, sebut saja namanya Dimas (26 tahun). Di fotonya, dia lagi tiduran di kamar. Tapi bukan sendirian. Di dadanya, ada seekor iguana. Iya, iguana. Hijau, sisik, mata melotot, lagi leyeh-leyeh juga.

Captionnya: “Weekend biasalah, rebahan sama anak.”

Gue mikir, “Anak? Emang iguana bisa jadi anak?”

Beberapa jam kemudian, gue liat postingan lain. Cewek, sebut aja Via (24 tahun). Dia lagi video call sama pacarnya. Tapi di bahu Via, ada sugar glider—tupai terbang mungil—lagi lompat-lompat. Di video itu, sugar glider-nya tiba-tiba glide ke arah kamera. Via ketawa. Pacarnya di layar juga ketawa.

Lalu gue sadar.

Ini bukan satu-dua orang. Ini fenomena. Iguana, sugar glider, bahkan ular dan biawak, lagi rame di timeline anak muda. Dulu tahun 2010-an sempat tren, lalu turun. Sekarang 2026, mereka balik lagi. Tapi dengan alasan yang beda.

Bukan cuma buat pamer. Bukan cuma buat konten. Tapi ada yang lebih dalam.

Selamat datang di era [Keyword Utama: Hewan Eksotis Kembali Tren?].


Antara AI yang Mengatur Segalanya dan Rindu Sesuatu yang “Liar”

Coba bayangin hidup lo sekarang.

Alarm pagi dari HP. Musik yang lo denger direkomendasiin algoritma. Makanan yang lo pesan diantar robot. Kerjaan lo diatur AI. Bahkan pas lo cari jodoh, aplikasi pake AI buat “match” kan lo sama orang.

Hidup kita makin… terkendali. Semua terprediksi. Semua rapi. Semua sesuai pola.

Tapi manusia bukan robot. Di dalam diri kita, masih ada yang namanya the wild. Sesuatu yang liar, yang nggak bisa diatur, yang pengen bebas. Dan di tengah kehidupan yang makin “bersih” dan “tertata”, kita butuh pengingat bahwa alam liar itu masih ada.

Hewan peliharaan biasa? Kucing, anjing, kelinci? Mereka udah terlalu “domestikasi”. Mereka manut. Mereka predictable. Tapi iguana? Sugar glider? Mereka masih membawa sisa-sisa alam liar. Gerak-geriknya nggak selalu bisa ditebak. Mereka nggak selalu mau dielus. Mereka punya insting.

Data fiktif dari Urban Psychology Institute (2026) menyebutkan bahwa 67% pemilik hewan eksotis mengaku merasakan “koneksi dengan alam liar” yang tidak mereka dapatkan dari hewan peliharaan biasa. Lebih menarik: 52% dari mereka bilang, merawat hewan eksotis bikin mereka merasa lebih “hidup” di tengah rutinitas yang monoton.

Jadi, tren ini bukan soal pamer. Ini soal merawat sesuatu yang nggak sepenuhnya bisa kita kendalikan. Sesuatu yang masih punya misteri. Sesuatu yang liar.


3 Cerita: Kenapa Mereka Pilih Iguana, Bukan Kucing

1. Dimas (26 tahun) dan Iguana yang “Nggak Rewel”

Dimas kerja di startup teknologi. Setiap hari berhadapan dengan kode, algoritma, dan data. Semuanya harus presisi. Satu koma salah, website error. Tekanannya besar.

Dia pernah pelihara kucing. Tapi kucingnya mati, dan dia sedih banget. “Gue nggak sanggup ngerawat yang terlalu… butuh perhatian. Kucing tuh minta elus, minta main, minta ini itu. Gue kadang nggak punya energi.”

Lalu dia kenalan sama iguana dari temen.

“Iguana tuh beda. Dia nggak terlalu butuh interaksi kayak kucing. Dia lebih… independent. Tapi anehnya, gue justru merasa lebih terhubung. Mungkin karena gue nggak memaksa dia jadi peliharaan. Dia ya dia. Sisiknya dingin, tatapannya tajam. Itu ngingetin gue: di luar sana masih ada dunia yang nggak terstruktur, nggak terprogram.”

Dimas bilang, ngeliat iguana-nya diam berjemur di bawah lampu UV, bikin dia tenang. “Kayak meditasi. Gue liat dia, dia liat gue. Nggak ngapa-ngapain. Tapi adem.”

2. Via (24 tahun) dan Sugar Glider yang “Terbang” di Kamar

Via kerja sebagai social media specialist. Hidupnya diatur deadline, engagement rate, dan algoritma Instagram. Stress? Iya, sering.

Dia beli sugar glider awalnya karena lucu, imut, dan sering muncul di FYP. Tapi lama-lama, dia nemuin makna lain.

“Sugar glider tuh aktifnya malam. Jadi pas gue udah pulang kerja, capek, dia baru mulai bangun. Kadang gue lepas di kamar, dia terbang dari lemari ke kursi, ke kepala gue, ke tirai. Gue cuma duduk, nonton. Rasanya… kayak punya little piece of wild di apartemen gue yang sempit.”

Via bilang, momen paling berkesan adalah ketika sugar glider-nya tiba-tiba mendarat di tangannya, padahal nggak dilatih. “Itu nggak direncanakan. Nggak ada algoritma yang prediksi. Dia milih sendiri. Rasanya… murni. Beneran murni.”

3. Rizky (28 tahun) dan Ular Piton yang “Nenangin”

Rizky arsitek. Pekerjaannya kreatif, tapi juga penuh tekanan. Klien suka minta revisi mendadak. Deadline nggak masuk akal. Otaknya nggak pernah berhenti muter.

Dia pelihara ular piton betina umur 3 tahun. Iya, ular. Panjang 2 meter.

Orang biasanya takut. Tapi Rizky justru merasa tenang.

“Kalau lo pegang ular, lo nggak bisa mikir hal lain. Lo harus fokus. Lo rasain gerakannya, ototnya, ritmenya. Itu meditasi bergerak. Dan yang bikin gue mikir: ular ini nggak peduli sama deadline gue, nggak peduli sama revisi klien. Dia ya dia. Ada. Sekarang. Hidup.”

Rizky bilang, di dunia yang semuanya serba cepat, punya hewan yang super lambat dan kalem itu… terapi.


Tapi… Jangan Asal Beli

Nah, ini penting banget. Gue nggak mau lo baca artikel ini terus langsung cus beli iguana atau sugar glider. Karena tren ini juga punya sisi gelap.

Common Mistakes Saat Pelihara Hewan Eksotis:

1. Impulsif Beli Karena Tren
Ini paling fatal. Lihat temen punya sugar glider lucu, lo beli. Padahal lo tinggal di kosan sempit, nggak punya waktu, nggak riset dulu. Akhirnya hewan stres, sakit, mati. Jangan. Riset minimal sebulan sebelum beli. Baca, tanya ke komunitas, pastikan lo siap.

2. Nggak Siap dengan Umur Panjang
Iguana bisa hidup 15-20 tahun. Bahkan ada yang sampai 25. Sugar glider 12-15 tahun. Kura-kura? Bisa lebih dari 50. Lo beli sekarang umur 25, nanti umur 45 masih punya tanggung jawab yang sama. Siap?

3. Anggap Sama Seperti Kucing/Anjing
Hewan eksotis punya kebutuhan spesifik. Iguana butuh sinar UVB khusus, suhu tertentu, kelembaban tertentu. Sugar glider butuh diet khusus, butuh teman (mereka hewan sosial), butuh kandang besar. Kalau cuma dikasih sayur sembarangan, mati.

4. Beli dari Penangkar Liar
Banyak hewan eksotis diambil dari alam, diperjualbelikan ilegal. Itu merusak ekosistem dan populasi liar. Pastikan beli dari penangkar legal, minta sertifikat. Kalau ragu, tanya di komunitas pecinta hewan eksotis. Mereka biasanya tahu mana breeder terpercaya.

5. Lupa Perawatan Kesehatan
Dokter hewan eksotis itu langka dan mahal. Nggak semua dokter hewan bisa tangani iguana atau sugar glider. Pastikan di kota lo ada dokter hewan eksotis, dan lo punya dana cadangan buat darurat.


Data (Fiktif) yang Mungkin Bikin Lo Mikir Ulang

Indonesia Exotic Pet Owners Community bikin survei tahun 2026. Ini temuannya:

  • 71% pemilik hewan eksotis adalah Gen Z dan Milenial urban dengan rentang usia 22-35 tahun.
  • Alasan utama memelihara: “merasa terhubung dengan alam” (58%), “estetika/keren” (32%), “investasi” (10%).
  • Rata-rata biaya perawatan per bulan: sugar glider Rp500-800 ribu, iguana Rp400-700 ribu, ular Rp300-600 ribu.
  • 43% pemilik mengaku pernah mengalami kesulitan mencari dokter hewan khusus.
  • 28% mengaku menyesal karena underestimate perawatan, tapi akhirnya bertahan karena sayang sama hewannya.

Artinya? Tren ini nyata, tapi tantangannya juga nyata. Jangan ikut-ikutan tanpa persiapan.


Tips Praktis Kalau Lo Serius Pengen Pelihara

Gue kasih step-by-step sederhana:

1. Riset, Riset, Riset
Baca buku, tonton YouTube, gabung grup Facebook atau Discord komunitas pecinta hewan eksotis. Tanya pengalaman mereka. Jangan percaya satu sumber.

2. Hitung Budget
Bukan cuma harga beli, tapi kandang, lampu, makanan, vitamin, dokter. Bikin list, totalin. Pastikan budget bulanan lo cukup. Kalau pas-pasan, tunda dulu.

3. Siapkan Kandang Sebelum Beli
Ini penting. Kandang harus ready dulu, lengkap dengan semua perlengkapan. Suhu dan kelembaban harus stabil. Baru setelah itu beli hewannya.

4. Beli dari Sumber Terpercaya
Cari breeder lokal yang punya reputasi baik. Minta lihat indukan, lihat kondisi kandang. Jangan beli online tanpa lihat fisik.

5. Siap Mental
Hewan eksotis bisa stres, bisa sakit, bisa mati. Siap mental untuk itu. Jangan kaget kalau iguana lo mogok makan seminggu. Itu biasa. Konsultasi ke komunitas atau dokter.

Anda mungkin juga suka...