Hidup Bareng Jamur di Rumah: Tren 'Mushroom Tech' yang Bikin Anak Hewan di Jakarta Melongo
Uncategorized

Hidup Bareng Jamur di Rumah: Tren ‘Mushroom Tech’ yang Bikin Anak Hewan di Jakarta Melongo

Pernah kebayang nggak, bangku kesayangan kucing lo itu ternyata tumbuh dari jamur? Bukan, bukan jamur kuping yang lo tumis buat sayur. Tapi miselium—akar halus jamur yang sekarang lagi naik daun banget di kalangan eco-conscious pet parents Jakarta. Ya, mushroom tech bukan cuma tren makanan atau suplemen, tapi udah merambah ke furnitur rumah. Dan ini bukan sekadar soal estetika atau gaya hidup sustainable doang. Ini tentang symbiotic living—gimana kita bisa hidup berdampingan sama makhluk hidup lain dalam satu rumah tanpa ngerusak satu sama lain. Keren, kan?

Jadi gini ceritanya. Bayangin lo punya bangku yang kuat banget—bisa nahan beban lebih dari 800 kg, atau setara sama 10 orang dewasa—tapi bobotnya cuma sekitar 3 kg. Itulah bangku Shrüm, hasil kolaborasi antara MYCL (Mycotech Lab) sama öd architecture studio yang sempet dipamerin di Pita Showroom, SCBD, Jakarta, awal tahun lalu . Materialnya dari limbah pertanian kayak serbuk kayu, ampas tebu, atau kulit jagung yang direkatin sama miselium jamur. Dan yang bikin heboh: ini 100% biodegradable alias bisa terurai alami . Nggak ada limbah beracun, nggak ada lem kimia. Bayangin, bangku dari jamur yang kekuatannya bisa nahan beban gajah!

Terus kenapa ini jadi tren di kalangan pemilik hewan peliharaan? Loh, justru karena bahan ini aman banget buat kucing, anjing, atau kelinci peliharaan lo. Nggak ada formaldehida, nggak ada VOC (senyawa organik beracun) yang sering nempel di furnitur MDF atau particle board . Buat lo yang punya hewan dengan indra penciuman super sensitif, ini kabar baik banget. “Gue pindah ke bangku Shrüm soalnya si Mochi—kucing gue—sering bersin-bersin kalo tidur di sofa lamanya,” cerita Rani, desainer grafis di daerah Kemang. “Abis ganti ke furnitur miselium, dia malah betah banget. Kayak ada ‘rumah baru’ yang aman buat dia.”


Symbiotic Living: Bukan Cuma Furnitur, Tapi Filosofi Hidup

Konsep symbiotic living ini sebenernya bukan hal baru. Arsitek udah mulai ngebayangin hunian yang nggak cuma tempat tinggal buat manusia, tapi juga tempat hidup buat organisme lain kayak miselium . Di New York, ada proyek perumahan di atap gedung UPS yang dirancang khusus buat manusia dan jamur tinggal bareng. Kompos dari bangunan dialirin ke ruang di antara unit hunian tempat miselium tumbuh. Udah kayak hubungan timbal balik: manusia ngasih makan jamur, jamur balik ngasih udara bersih dan isolasi alami . Konsep yang sama mulai diterapin di Jakarta, walau dalam skala lebih kecil. MYCL aja udah ngembangin BioBo—papan partikel tanpa perekat kimia—yang bisa dipakai jadi pelapis dinding penahan panas. Emisi karbonnya 10 persen lebih rendah dari material lain dan punya kapasitas nyimpen karbon negatif . Artinya? Rumah lo jadi lebih sejuk tanpa AC, dan lingkungan juga lebih aman buat si bulus kesayangan lo!


3 Contoh Nyata ‘Mushroom Tech’ di Jakarta

  1. Bangku Shrüm di Pita Showroom: Ini paling hits! Dibuat sama MYCL dan öd architecture studio, bangku ini bukan cuma jadi pajangan. Bahan MYCL Composite-nya bikin bangku kuat tapi ringan banget. Dan karena proses produksinya nggak pake bahan kimia berbahaya, ini jadi alternatif sempurna buat rumah dengan hewan peliharaan . Harganya? Yah, memang belum ramah di kantong semua orang. Tapi inget, sustainable itu investasi jangka panjang, bukan konsumsi instan.
  2. MycoBlox dan BioBo untuk Renovasi Rumah: Kalau lo lagi mau renovasi atau bikin mezzanine buat kucing main, MYCL punya MycoBlox—blok modular dari miselium yang ringan tapi kuat. Ada juga BioBo, papan partikel dari limbah pertanian yang nggak pake lem. Ini sering dipake buat dinding partisi atau plafon. Dan karena bahannya organik, kalo peliharaan lo suka gigit-gigit sudut meja, lo nggak perlu panik soal racun .
  3. Mylea Sea: Dari Jamur Jadi Kulit Buatan: Ini bukan furnitur sih, tapi produk turunan dari miselium yang bisa dipake buat aksesoris rumah kayak sarung bantal atau taplak. Bahannya dari karagenan alga merah yang dikembangin sama komunitas pesisir. Biodegradable 100% dan ramah lingkungan . Nggak ada lagi mikroplastik yang berbahaya buat hewan peliharaan kalau mereka ngunyah ujung taplak meja!

Practical Tips: Gampang Banget Mulai ‘Mushroom Tech’

Nggak perlu langsung beli bangku Shrüm yang harganya mungkin selangit. Ada cara kecil yang bisa lo lakuin:

  1. Mulai dari Aksesoris Kecil: Cari alas makanan atau tempat tidur hewan peliharaan yang bahannya dari serat alami terikat miselium. MYCL lagi ngembangin banyak produk turunan dari limbah pertanian . Cek marketplace lokal atau langsung tanya ke komunitas pecinta lingkungan di Jakarta.
  2. Cek Sertifikasi Bahan Furnitur Lama: Sebelum lo beli furnitur baru, cek dulu bahan yang dipake. Kalau masih pake MDF atau particle board dengan perekat kimia, pertimbangkan buat ganti ke bahan berbasis miselium atau kayu solid. Common mistake: orang sering beli furnitur murah tanpa mikirin efek jangka panjang buat kesehatan hewan peliharaan dan lingkungan.
  3. Kompos Sisa Makanan Jadi ‘Makanan’ Jamur? Ini masih eksperimen sih, tapi bayangin kalo lo bisa bikin kompos dari sisa makanan di dapur dan pake itu buat ‘nge-charge’ miselium di pot tanaman rumah. Di proyek perumahan symbiotic, kompos dari bangunan dikasihin ke jamur buat tumbuh . Di rumah, lo bisa mulai dari hal kecil: bikin komposter mini dan tanam jamur di pot dekoratif. Ini bukan cuma instagrammable, tapi juga beneran ngebantu mengurangi sampah organik!

Kesalahan Umum yang Sering Dilakuin

Sebelum lo terjun ke tren mushroom tech, ada beberapa jebakan yang perlu dihindari:

  • Terlalu Fokus pada “Kerennya”, Lupa Fungsinya: Iya, bangku dari jamur itu unik. Tapi jangan sampai lo beli cuma buat pamer di Instagram, padahal hewan peliharaan lo nggak betah. Pastikan materialnya beneran nyaman buat mereka. Cek teksturnya, cium baunya (miselium punya aroma khas kayak tanah hutan, biasanya aman).
  • Nggak Ngecek Kelembaban Ruangan: Miselium itu organik hidup (walau udah diproses jadi material mati), tapi produk berbasis miselium tetap sensitif sama kelembaban ekstrem. Kalo rumah lo terlalu lembap, bisa aja material ini mengalami degradasi lebih cepat. Pakai dehumidifier atau pastikan sirkulasi udara bagus.
  • Ekspektasi Berlebihan soal Daya Tahan: Emang bangku Shrüm bisa nahan 800 kg, tapi bukan berarti lo bisa pake buat pijak-pijak atau lempar-lempar. Furnitur miselium tetap butuh perawatan kayak furnitur kayu: jangan terlalu sering kena air, jangan dijemur panas terik, dan bersihin dengan kain lembut.

Kesimpulan: Hidup Bareng Jamur, Bukan Sekadar Tren

Mushroom tech dan konsep symbiotic living ini bukan cuma soal pamer gaya hidup eco-friendly. Ini tentang perubahan cara kita melihat rumah dan isinya—termasuk hewan peliharaan kesayangan. Di tengah kota sepadat Jakarta, bisa punya furnitur yang tumbuh dari alam dan balik lagi ke alam itu kayak punya ‘paspor’ ke masa depan yang lebih sehat. Buat lo yang punya hewan peliharaan, ini solusi nyata: furnitur aman, bebas racun, dan sekaligus bikin bumi (dan si bulus) lebih bahagia. Karena pada akhirnya, rumah bukan cuma tempat tinggal, tapi ekosistem kecil tempat semua makhluk hidup—manusia, kucing, anjing, bahkan jamur—bisa hidup bareng dengan selaras. Gimana, lo siap bawa pulang sepotong jamur ke rumah?

Anda mungkin juga suka...